Jumat, 13 Desember 2019

history candi sawentar

HISTORY CANDI SAWENTAR
Hasil gambar untuk history candi sawentar 
Candi Sawentar terletak di Desa Sawentar, Kecamatan Kanigoro, Blitar, Jawa Timur.
Candi Sawentar diduga dibangun pada awal berdirinya Kerajaan Majapahit. Candi yang terbuat dari batu andesit ini berukuran panjang 9,53 m, lebar 6,86 m dan tingginya 10,65 m. Pintu masuk menuju bilik berada di sebelah barat, dengan ornamen makara pada pipi tangga, sedangkan relung-relungnya terdapat pada setiap dinding luar tubuh candi.
Di dalam ruangan bilik ditemukan akas arca dengan pahatan burung garuda, yang dikenal sebagai kendaraan Dewa Wisnu. Berdasarkan hal ini dapat diketahui bahwa Candi Sawentar merupakan bangunan suci yang berlatar belakang agama Hindu.masalah penjamanan Candi Sawentar masih ada dua pendapat yang berbeda. Pendapat pertama bahwa candi itu berasal dari awal abad XIII atau merupakan hasil kesenian periode Singosari (Sulaiman, 1976:26). Hal ini didasarkan atas arsitekturnya yang hampir sama dengan Candi Kidal yan gdidirikan sekitar 1260 Masehi sebagai tempat pendharmaan Anusapati, atau 12 tahun setelah kematiannya. Pendapat kedua mengatakan bahwa Candi Sawentar berasal dari periode awal Majapahit (Krom, 1923:292; Stutterheim, 1948:77). Hal ini didasarkan adanya hiasan Surya Majapahit yang diduga sebagai lambang Kerajaan Majapahit (Mursitawati, 1987: 88) yaitu pada batu penutup lubang cungkupnya terdapat pahatan lingkaran dengan sudut-sudut yang merupakan pancaran sinar sebanyak dua puluh tujuh. Di tengah lingkaran tampak pahatan tokoh menunggang kuda memakai mahkota, di sekitar kepala terdapat siras cakra. Tokoh tersebut digambarkan dengan tangan kanan diangkat agak ke samping memegang tali kendali, tangan kiri ke depan juga memegang kendali. Pakaian yan gdikenakan sebatas lutut, memakai selendang pada pinggang. Kaki kanan terlipat sedang kaki kiri tidak terlihat karena tertutup badan kuda. Kuda digambarkan berbadan agak kecil, mempunyai telinga panjang seperti telinga kelinci, ekor menjuntai ke bawah. Posisi kaki kuda menekuk ke belakang seolah-olah hendak melompat. Di bawah kuda terdapat hiasan berupa sulur-suluran (Mursitawati, 1987: 11-12).
Keletakan relief Surya Majapahit pada batu penutup cungkup mempunyai arti dan maksud tertentu. Menurut Stutterheim relief pada batu penutup cungkup melukiskan sesuatu yang betalian erat dengan kedewaan dan dengan demikian mempunyai peranan yang berhubungan dengan keagamaan. Seperti telah dijelaskan sebelumnya di engah relief Surya Majapahit ada penggambaran tokoh menunggang kuda. Penggambaran ini menurut Sutterheim berhubungan dengan seorang tokoh dewa. Dalam alam pikiran Hindu, kuda sering dihubungkan dengan Indra, Surya dan Wisnu. Menurut Van Stein Callenfels tokoh menunggan kuda dihubungkan dengan Indra dengan kuda uccaiśrawa dan bertempat tingggal di atas meru seperti yang terdapat dalam cerita Samudramantana. Tetapi Stutterheim menolak dengan mengatakan bahwa hal tersebut tidak ada kaitannya dengan Samudramantana, ia mengidentifikasi tokoh menunggang kuda dengan Surya. Sedangkan N.J. Krom dengan membandingkan relief tokoh penunggang kuda pada batu penutup cungkup. Candi Bangkal bahwa tokoh penunggang kuda adalah Kalki. Sebagai dewa penyelamat Kalki digambarkan mengendarai seekor kuda putih dengan pedang terhunus dan bercahaya seperti binatang bersayap. Pendapat Krom lebih dapat diterima, karena Kaliki adalah awatara ke sepuluh Wisnu. Dalam kitan-kitab Veda, Wisnu dianggap sebagai dewa yang tertinggi kedudukannya. Wisnu dikatakan mempunyai sifat sebagai matahari dan telah mengunjungi tujuh bagian dunia serta mengedari dunia tiga langkah (triwikrama). Sebagai dewa, Wisnu menjelma dalam tiga wujud yaitu api, halilintar, dan sinar matahari yang ada di dunia. Pemujaan pada Wisnu dalam bentuk matahari sering disebut dengan nama surya narayana (Basori, 1992: 4-5). Dihubungkan dengan yoni yang memiliki relief garuda dengan posisi berada di bawah batu penutup cungkup dan relief yang terdpaat di batu penutup cungkup, kemungkinan Candi Sawentar bersifat Wisnuistis.
Candi Sawentar tercantum dalam kitab Nagarakrtagama pupuh LXI bait 2 yang disebut dengan Lwa Wentar. Bunyi lengkap kitab Nagarakrtagama pupuh LXI bait 2 yaitu: ndan ri śakha tri tanu rawi rin weśaka, śri nātha mūja mara ri palah sabhrtya, jambat sin ramya pinaranirān/lātnlitya, ri lawn wĕntār mmanuri balitar mwan jimbe (Pigeaud, 1960: 46). Artinya: tahun saka tiga badan dan bulan (1283) waisaka baginda raja berangkat menyekar ke Palah dan mengunjungi Jimbe untuk menghibur hati di Lawang Wentar Blitar menentramkan cita (Muljana, 2007:380).
Hingga saat ini Candi Sawentar tidak diketahui dibangun sebagai tempat pendharmaan siapa, mengingat dalam Nagarakrtagama maupun prasasti tidak pernah menyebutkannya.
 Nama : Eva Nur Asyiroh
 Nim    : 1888201044

Komentar

history candi sawentar

HISTORY CANDI SAWENTAR

Hasil gambar untuk history candi sawentar 
Candi Sawentar terletak di Desa Sawentar, Kecamatan Kanigoro, Blitar, Jawa Timur.
Candi Sawentar diduga dibangun pada awal berdirinya Kerajaan Majapahit. Candi yang terbuat dari batu andesit ini berukuran panjang 9,53 m, lebar 6,86 m dan tingginya 10,65 m. Pintu masuk menuju bilik berada di sebelah barat, dengan ornamen makara pada pipi tangga, sedangkan relung-relungnya terdapat pada setiap dinding luar tubuh candi.
Di dalam ruangan bilik ditemukan akas arca dengan pahatan burung garuda, yang dikenal sebagai kendaraan Dewa Wisnu. Berdasarkan hal ini dapat diketahui bahwa Candi Sawentar merupakan bangunan suci yang berlatar belakang agama Hindu.masalah penjamanan Candi Sawentar masih ada dua pendapat yang berbeda. Pendapat pertama bahwa candi itu berasal dari awal abad XIII atau merupakan hasil kesenian periode Singosari (Sulaiman, 1976:26). Hal ini didasarkan atas arsitekturnya yang hampir sama dengan Candi Kidal yan gdidirikan sekitar 1260 Masehi sebagai tempat pendharmaan Anusapati, atau 12 tahun setelah kematiannya. Pendapat kedua mengatakan bahwa Candi Sawentar berasal dari periode awal Majapahit (Krom, 1923:292; Stutterheim, 1948:77). Hal ini didasarkan adanya hiasan Surya Majapahit yang diduga sebagai lambang Kerajaan Majapahit (Mursitawati, 1987: 88) yaitu pada batu penutup lubang cungkupnya terdapat pahatan lingkaran dengan sudut-sudut yang merupakan pancaran sinar sebanyak dua puluh tujuh. Di tengah lingkaran tampak pahatan tokoh menunggang kuda memakai mahkota, di sekitar kepala terdapat siras cakra. Tokoh tersebut digambarkan dengan tangan kanan diangkat agak ke samping memegang tali kendali, tangan kiri ke depan juga memegang kendali. Pakaian yan gdikenakan sebatas lutut, memakai selendang pada pinggang. Kaki kanan terlipat sedang kaki kiri tidak terlihat karena tertutup badan kuda. Kuda digambarkan berbadan agak kecil, mempunyai telinga panjang seperti telinga kelinci, ekor menjuntai ke bawah. Posisi kaki kuda menekuk ke belakang seolah-olah hendak melompat. Di bawah kuda terdapat hiasan berupa sulur-suluran (Mursitawati, 1987: 11-12).
Keletakan relief Surya Majapahit pada batu penutup cungkup mempunyai arti dan maksud tertentu. Menurut Stutterheim relief pada batu penutup cungkup melukiskan sesuatu yang betalian erat dengan kedewaan dan dengan demikian mempunyai peranan yang berhubungan dengan keagamaan. Seperti telah dijelaskan sebelumnya di engah relief Surya Majapahit ada penggambaran tokoh menunggang kuda. Penggambaran ini menurut Sutterheim berhubungan dengan seorang tokoh dewa. Dalam alam pikiran Hindu, kuda sering dihubungkan dengan Indra, Surya dan Wisnu. Menurut Van Stein Callenfels tokoh menunggan kuda dihubungkan dengan Indra dengan kuda uccaiśrawa dan bertempat tingggal di atas meru seperti yang terdapat dalam cerita Samudramantana. Tetapi Stutterheim menolak dengan mengatakan bahwa hal tersebut tidak ada kaitannya dengan Samudramantana, ia mengidentifikasi tokoh menunggang kuda dengan Surya. Sedangkan N.J. Krom dengan membandingkan relief tokoh penunggang kuda pada batu penutup cungkup. Candi Bangkal bahwa tokoh penunggang kuda adalah Kalki. Sebagai dewa penyelamat Kalki digambarkan mengendarai seekor kuda putih dengan pedang terhunus dan bercahaya seperti binatang bersayap. Pendapat Krom lebih dapat diterima, karena Kaliki adalah awatara ke sepuluh Wisnu. Dalam kitan-kitab Veda, Wisnu dianggap sebagai dewa yang tertinggi kedudukannya. Wisnu dikatakan mempunyai sifat sebagai matahari dan telah mengunjungi tujuh bagian dunia serta mengedari dunia tiga langkah (triwikrama). Sebagai dewa, Wisnu menjelma dalam tiga wujud yaitu api, halilintar, dan sinar matahari yang ada di dunia. Pemujaan pada Wisnu dalam bentuk matahari sering disebut dengan nama surya narayana (Basori, 1992: 4-5). Dihubungkan dengan yoni yang memiliki relief garuda dengan posisi berada di bawah batu penutup cungkup dan relief yang terdpaat di batu penutup cungkup, kemungkinan Candi Sawentar bersifat Wisnuistis.
Candi Sawentar tercantum dalam kitab Nagarakrtagama pupuh LXI bait 2 yang disebut dengan Lwa Wentar. Bunyi lengkap kitab Nagarakrtagama pupuh LXI bait 2 yaitu: ndan ri śakha tri tanu rawi rin weśaka, śri nātha mūja mara ri palah sabhrtya, jambat sin ramya pinaranirān/lātnlitya, ri lawn wĕntār mmanuri balitar mwan jimbe (Pigeaud, 1960: 46). Artinya: tahun saka tiga badan dan bulan (1283) waisaka baginda raja berangkat menyekar ke Palah dan mengunjungi Jimbe untuk menghibur hati di Lawang Wentar Blitar menentramkan cita (Muljana, 2007:380).
Hingga saat ini Candi Sawentar tidak diketahui dibangun sebagai tempat pendharmaan siapa, mengingat dalam Nagarakrtagama maupun prasasti tidak pernah menyebutkannya.



 Nama : Eva Nur Asyiroh
 Nim    : 1888201044

Senin, 14 Oktober 2019

Tradisi Sisetan atau Paningsetan sebelum pernikahan



Tradisi sebelum acara pernikahan
Hasil gambar untuk foto peningsetan
Lamaran
Melamar artinya meminang, karena pada zaman dulu diantara pria dan wanita yang akan menikah terkadang masih belum saling mengenal, jadi dalam hal ini orang tualah yang mencarikan jodoh dengan cara menanyakan kepada seseorang apakah puterinya sudah atau belum mempunyai calon suami. Dari sini bisa dirembug hari baik untuk menerima lamaran atas persetujuan bersama.
Upacara lamaran:
·       Pada hari yang telah ditetapkan, datanglah utusan dari calon besan yaitu orang tua calon pengantin pria dengan membawa oleh-oleh. Pada zaman dulu yang lazim disebut Jodang ( tempat makanan dan lain sebagainya ) yang dipikul oleh empat orang pria.
·       Makanan tersebut biasanya terbuat dari beras ketan antara lain: Jadah, wajik, rengginang dan sebagainya.
·       Menurut naluri makanan tersebut mengandung makna sebagaimana sifat dari bahan baku ketan yang banyak glutennya sehingga lengket dan diharapkan kelak kedua pengantin dan antar besan tetap lengket (pliket,Jawa).
·      Setelah lamaran diterima kemudian kedua belah pihak merundingkan hari baik untuk melaksanakan upacara peningsetan. Banyak keluarga Jawa masih melestarikan sistem pemilihan hari pasaran pancawaradalam menentukan hari baik untuk upacara peningsetan dan hari ijab pernikahan.




Peningsetan
Kata peningsetan adalah dari kata dasar singset (Jawa) yang berarti ikat, peningsetan jadi berarti pengikat.
Peningsetan adalah suatu upacara penyerahan sesuatu sebagai pengikat dari orang tua pihak pengantin pria kepada pihak calon pengantin putri.Menurut tradisi peningset terdiri dari:
·       Kain batik
·       bahan kebaya
·       semekan
·       perhiasan emas
·       uang yang lazim disebut tukon (imbalan) disesuaikan kemampuan ekonominya
·       jodang yang berisi: jadah, wajik, rengginan, gula, teh, pisang raja satu tangkep, lauk pauk dan satu jenjang kelapa yang dipikul tersendiri
·        satu jodoh ayam hidup.

Untuk menyambut kedatangan ini diiringi dengan gending Nala Ganjur .
Biasanya penentuan hari baik pernikahan ditentukan bersama antara kedua pihak setelah upacara peningsetan.
Susunan acara yang biasa dilakukan ketika acara lamaran berlangsung :
·         Diawali dengan kedatangan rombongan keluarga pria ke rumah wanita.
·         Pembukaan acara oleh MC atau pembawa acara.
·         Mengutarakan maksud dan tujuan kedatangan rombongan keluarga pria yang biasanya diwakilkan oleh utusan yang sudah ditunjuk.
·         Kemudian dari pihak keluarga wanita akan memberikan sambutan penerimaan sebagai tanda bahwa pihak keluarga menyambut baik rencana lamaran dari pihak pria.
·         Penyerahan secara simbolis hantaran lamaran dari ibu sangan pria kepada ibu sang wanita. Setelah tiu, sebagai tanda betapa besar cinta kasih keluarga sang wanita kepada pria maka diserahkan pula tanda cinta kasih balasan yang bisa berupa seperangkat pakaian pria atau jenis lain yang sudah disepakati sebelumnya.


·         Apabila akan diadakan acara pemasangan cincin maka ibu sang pria akan memasangkan cincin kepada wanita dan sebaliknya, dari ibu sang wanita kepada pria. Namun, acara ini juga dapat ditiadakan apabila anda menginginkan pemasangan  cincin akan langsung dilakukan pada waktu acara akad nikah. Semua bergantung dari pembicaraan internal antara keluarga anda dan keluarga calon pasangan anda.
·         Perkenaan keluarga masing-masing, yang biasanya diawali oleh keluarga pihak pria baru kemudian keluarga pihak wanita.
·         Penutupan ole MC atau pembawa acara yang diteruskan dengan doa bersama, bertujuan agar segala sesuatu yan g telah anda berdua rencanakan dapat berjalan dengan lancar.
·         Acara ramah-tamah yang biasanya diisi dengan makan bersama yang sebelumnya telah disiapkan.


NAMA                  : EVA NUR ASYIROH
NIM                      : 1888201044
MATA KULIAH   : SASTRA DAERAH